Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Reboisasi untuk Lestarikan Alam dan Rawat Sumber Mata Air

 

Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto menjadi salah satu wilayah yang kaya potensi alam. Salah satunya mata air Djoebel yang menjadi sumber air bersih yang masih lestari sejak masa kolonial.

UNTUK merawat keberlangsungan alam di lereng Gunung Welirang ini, Pemkab Mojokerto bersama lintas unsur melakukan penanaman pohon di sekitar area mata air Djoebel. Upaya reboisasi ini dilakukan dengan menanam ribuan bibit pohon bambu, sukun, durian, hingga sirsak.

Kepala Dusun Belor Yoyok Rudi menegaskan, langkah reboisasi diharapkan dapat membawa kebermanfaatan bagi masyarakat. Utamanya dalam menjaga kelestarian alam melalui penanaman berbagai bibit pohon yang memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air. ''Karena selain Djoebel, ada beberapa sumber mata air lainnya yang dimanfaatkan oleh warga,'' terangnya.

Penanaman pohon juga sebagai upaya untuk memulihkan alam. Passlnya, masih terdapat area hutan yang terdampak pembalakan liar yang terjadi lebih dari dua dekade lalu. ''Sebagian sudah ada yang diganti, cuma masih ada sebagian yang masih gundul sehingga dilakukan penanaman lagi bersama Pak Bupati,'' tandasnya.

Sementara itu, sumber Djoebel yang dibangun sejak masa kolonial di tahun 1927 hingga kini juga masih memancarkan air. Alirannya dimanfaatkan oleh masyarakat hingga di Dusun Paras dan Dusun Kembang, Desa Kembangbelor sebagai sumber air bersih dan mengairi lahan persawahan.

Bahkan, air murni dari pegunungan yang dikelola oleh Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Mojopahit ini juga disuplai ke desa-desa lain di wilayah Kabupaten Mojokerto. ''Jadi mata air peninggalan Belanda hingga kini digunakan untuk sumber air bersih bagi masyarakat,'' pungkasnya. (ram/fen)



Sumber Berita: radarmojokerto.jawapos.com

Posting Komentar untuk "Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Reboisasi untuk Lestarikan Alam dan Rawat Sumber Mata Air"